Kuota Pendakian Rinjani Jadi Polemik, Pelaku Wisata Meradang Minta Kuota Ditambah

Rosyidin S
Sabtu, April 05, 2025 | 14.54 WIB Last Updated 2025-04-05T06:54:53Z
Ilustrasi: Satu-satunya Guide Perempuan asal Sembalun sedang memandu wisatawan yang berkunjung ke Gunung Rinjani. (Foto: Istimewa/MP).

MANDALIKAPOST.com – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) kembali membuka aktivitas pendakian mulai hari Kamis, 3 April 2025 setelah penutupan selama tiga bulan lamanya. hingga hari ini terpantau lancar dan kondusif, meski di hari pertama pembukaan jalur pendakian gunung kebanggaan Nusa Tenggara Barat ini diwarnai aksi protes dari para penyedia jasa pendakian atau Trekking Organizer (TO).


Mereka menyuarakan aspirasi untuk penambahan kuota pendaki gunung Rinjani yang saat ini dinilai terlalu terbatas.


Aksi unjuk rasa tersebut dibenarkan oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Yarman mengungkapkan bahwa para pengunjuk rasa berasal dari beberapa TO yang di Senaru, Lombok Utara.


“TO ini anggota forum, namanya Forum Wisata Lingkar Rinjani. Tapi mereka tidak mengatasnamakan Forum, Ada beberapa orang di bawah forum ini yang menyampaikan aspirasinya,” ujar Yarman kepada Mandalikapost.com saat dikonfirmasi via telepon pada Sabtu (5/4/).


Yarman menjelaskan bahwa sebelumnya telah terjalin komunikasi antara pihak BTNGR dan forum tersebut, di mana pada prinsipnya mereka mendukung dibukanya kembali aktivitas pendakian.


“Tapi mungkin memang ada yang suka dan tidak suka, dan hal ini wajar saja itu terjadi. Tapi beruntungnya hingga hari ini kegiatan pendakian tetap berjalan lancar,” ungkapnya.


Menanggapi tuntutan penambahan kuota, Yarman menegaskan bahwa penetapan kuota tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Menurutnya, berbagai aspek seperti ketersediaan sarana dan prasarana pendukung perlu menjadi pertimbangan utama.


“Kita harus menetapkan kuota untuk membatasi, tujuannya supaya pengunjung khususnya pendaki nyaman menikmati keindahan Gunung Rinjani,” jelas Yarman.


Lebih lanjut, Yarman memaparkan bahwa kuota pendakian Gunung Rinjani saat ini ditetapkan sebanyak 700 orang per hari yang tersebar di enam jalur pendakian.

Ilustrasi: Wisatawan yang hendak mendaki gunung Rinjani berpose ria bersama salah satu TO Sembalun di gerbang pintu masuk jalur Sembalun. (Foto: Istimewa/MP).

Penetapan kuota ini, kata dia, telah melalui kajian yang matang bersama BTNGR dan instansi terkait dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung kawasan, demi mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan.


“Kuota sekarang untuk pendakian Gunung Rinjani ada 700 orang per hari di enam jalur pendakian. Saya rasa ini sudah cukup, kalaupun nanti ada penambahan kouta, ya kita lihat aja lah dlu kondisinya. Artinya bisa nambah bisa kurang dari 700 itu," ungkap Yarman.


Ia menambahkan, “Kawasan konservasi bukan hanya masalah wisata, harus bisa berkelanjutan menjadi wisata kelas dunia yang berkelanjutan,” imbuhnya.


Oleh karena itu, Yarman menekankan bahwa jika ada permintaan penambahan kuota, hal tersebut harus didasarkan pada kajian yang tepat dan terukur, bukan sekadar keinginan sesaat.


“Kalau memang ada tamu yang tetap ingin melakukan pendakian, tolong sampaikan dengan baik kalau memang kuota sedang penuh dan ini demi kenyamanan mereka juga,” pesannya.


Dalam kesempatan yang sama, Yarman mengimbau kepada seluruh Trekking Organizer untuk tetap mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.


Ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menaati SOP pendakian, SOP pengelolaan sampah, SOP evakuasi, termasuk batasan kuota yang telah ditetapkan.


“Kalau tidak ada pembatasan atau tidak ada aturan, maka akan jadi berantakan. Dan temen-temen TO juga bisa mengarahkan tamunya lewat jalur yang lain, selain Sembalun, Senaru dan Toren. Seperti di pintu masuk jalur Timba Nuh dan yang lain," pungkas Yarman.


Aksi protes ini menjadi catatan penting di hari pertama dibukanya kembali pendakian Gunung Rinjani, menyoroti adanya perbedaan pandangan antara pengelola kawasan dan penyedia jasa terkait dengan pengelolaan kuota pendaki demi menjaga kelestarian dan kenyamanan di salah satu destinasi wisata alam unggulan Indonesia ini.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kuota Pendakian Rinjani Jadi Polemik, Pelaku Wisata Meradang Minta Kuota Ditambah

Trending Now